Ibnu Khaldun: Karya Gemilang usai Terbuang

The Muqaddimah dan Ibnu Khaldun (grafis: Hendra JR. aceh.tribunnews.com)

oleh Yusuf Maulana

Dengarlah, suara-suara telah terdengar
Suara-suara yang terusik langkah-langkahmu di kota
Saat engkau hadir kembali dalam kiprah pagimu
dan orang-orang yang terbangunkan oleh langkah-langkahmu
sebentar lagi kan bergabung denganmu

~ Malik Bin Nabi, “Nyanyian Perlambang”, pembuka kitab Syuruth al-Nahdhah

Tradisi keluarganya dalam mencintai ilmu tidak perlu disangsikan. Seturut itu, kepiawaian untuk terlibat dalam panggung kekuasaan juga punya akar di leluhurnya. Sang kakek pernah dipercaya sebagai pejabat urusan keuangan. Namun kisah duka juga sering menjadi peneman setia tatkala amanah dalam genggaman.

Seperti Abu Bakar Muhammad bin Hassan, sang kakek, begitulah kita mudah mendapati perjalanan politik sang cucu, Abdurrahman Abu Zayd Ibnu Khaldun. Barang kali karena ada semacam trauma ketika berada di pusat kekuasaan, anak Abu Bakar—Muhammad—memilih menekuni keilmuan saja. Dunia politik tampaknya belum mengesankan untuk dimasuki.

Tapi tidak dengan anak Muhammad, Ibnu Khaldun, yang mengulang lagi jejak kakeknya. Senyampang ilmu direguk tanpa henti, memasuki lingkaran kekuasaan tidak ditabui. Bila sampai umur 20 tahun kiprah Khaldun disebut fase pencarian ilmu, selepas itu sampai umur 43 tahun ia masuk dalam praksis politik.

Dari kampung kelahirannya ia pun pergi ke Kota Fez, Maroko. Niatnya mencari ilmu sekaligus berharap mendapatkan posisi di penguasa untuk menjalankan keilmuannya. Sayang, misi yang kedua ini kandas. Suksesi kekuasaan yang sedikit bernuansa kudeta malah menempatkan Ibnu Khaldun sebagai aktor di dalamnya. Sayang, upaya menaikkan kandidat yang disokongnya terbongkar, hingga ia pun dibui selama dua tahun. Selepas itu, ia lagi-lagi terlibat dalam politik.

Seperti ditulis Musthafa Abd Rahman, “Mengenang Jejak Ibnu Khaldun di Tunisia” (Kompas, 06 Agustus 2004), setelah keluar dari penjara, Ibnu Khaldun bergabung dalam barisan oposisi dalam upaya meraih posisi dalam kekuasaan. Pada 1359, Ibnu Khaldun mendapat posisi penting, yakni dipercaya sebagai sekretaris Sultan Marinides baru, Abi Salim. Namun, Ibnu Khaldun menduduki posisi tersebut hanya sekitar dua tahun lantaran goyahnya kekuasaan Abi Salim menyusul aksi unjuk rasa terhadap kekuasaan Abi Salim itu, termasuk memprotes peran Ibnu Khaldun dalam kekuasaan yang akhirnya berhasil didepaknya.

Merasa sudah tidak mendapat tempat lagi di Fez, Ibnu Khaldun pergi dari kota tersebut menuju Granada-Andalusia.

“Di Granada, Ibnu Khaldun untuk pertama kalinya melakukan komunikasi dengan dunia Kristen ketika ia diutus oleh Ibnu Khatib (penguasa Muslim Granada) untuk mengadakan kesepakatan damai dengan penguasa Kristen di Sevilla, Pedro The Cruel,” tulis Musthafa Abd Rahman.

Pada 1365, Ibnu Khaldun keluar dari Granada. Di Aljazair, penguasa setempat, Abu Abdullah, menawarkan padanya jabatan deputi raja dengan mengajar dan sebagai khatib. Sayang, posisi ini tidak bertahan lama lantaran Abu Abdullah dibunuh penguasa Konstantin, Abu al-Abbas.

Rehat dari dunia politik pun ditempuhnya setelah kejadian berdarah itu. Tapi diam-diam ia mendorong sebuah koalisi politik untuk melawan Abu al-Abbas. Upayanya ini juga tidak membuahkan hasil.

Entah karena jemu dengan kegagalan berpolitik ataukah panggilan keilmuan begitu kuat, Ibnu Khaldun memilih merefleksikan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan masa di zamannya. Di Oran, Aljazair, ia pun mengangkat penanya. Di kota ini ia memulai menuliskan sebuah pengantar untuk telaah sejarah peradaban-peradaban. Karya tulis lengkapnya ini “kalah populer” dibandingkan pengantarnya. Dibandingkan Kitab al-I’bar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-‘Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asharahiim min Dzawi al-Suthan al-Akbar, bagian pengantar kitab ini (Muqaddimah) justru melambungkan namanya hingga berabad kemudian.

Tapi riwayat Ibnu Khaldun sepertinya ditakdirkan untuk berhadapan dengan banyak musuh. Kendati tidak berpolitik, lawan-lawannya tidak ingin membiarkan ia begitu saja hidup nyaman. Ia pun hijrah ke Mesir pada 1382.

Di Mesir, tepatnya Kairo, Ibnu Khaldun diterima sebagai pengajar di Universitas Al Azhar. Bahkan pada 1384 ia diangkat sebagai hakim untuk mazhab Maliki. Sayangnya, orang-orang yang tidak suka Ibnu Khaldun juga ada di Mesir.

“Ia memiliki banyak musuh yang selalu berusaha menyingkirkannya dan akhirnya ia dipecat sebagai hakim pada tahun 1385. Ia kemudian pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembali dari Mekkah, ia cenderung ke arah sufi dan memimpin sebuah sekolah sufi. Setelah 14 tahun mengajar, Ibnu Khaldun dipercaya kembali sebagai hakim pada tahun 1399, tetapi dipecat lagi pada September 1400,” papar Musthafa Abd Rahman dalam tulisannya.

Desember 1400, Ibnu Khaldun meninggalkan Kairo menuju Damaskus. Di Damaskus, lagi-lagi ia menghadapi pertarungan kekuasaan yang memaksanya kembali ke Kairo. Keberadaannya di Kairo kali kedua ini mendapatkan sambutan hangat. Ia diangkat kembali sebagai hakim hingga wafatnya pada 17 Maret 1406.

Orang bisa belajar tidak hanya dari kesuksesan, tetapi juga dari kegagalan. Termasuk belajar lebih dalam dari pihak yang memusuhi. Kiranya ini yang dengan baik dilakukan Ibnu Khaldun dalam karya-karyanya kelak. Jatuh-Bangun kekuasaan dengan baik dipaparkan Khaldun, berikut syarat dan indikatornya.

Sebagai pemain di dalam kekuasaan, terlepas dari intrik lawan-lawannya, Khaldun merasakan firasat—dan juga prasangka—bekerja bersama pengetahuan yang dimilikinya. Bekal ilmu rasional yang diperolehnya semasa remaja turut membantunya menjelaskan fenomena yang sangat berguna bagi masyarakat dunia hingga kini.

Pengamatan, pengalaman, berpadu dengan firasat dan kadar iman saling menjalin sebagai aksi di medan yang digeluti. Satu medan yang tidak berhasil ditekuni tidak menutup kontribusi di medan berbeda. Atau bisa juga antar-medan kiprah dan disiplin membentuk jaringan pengetahuan juga karya yang kian mumpuni. Boleh saja hasilnya kegagalan, tapi refleksi yang dituliskan kelak jadi bahan pembanding bagi peradaban berbeda. Kiranya apresiasi pada Muqaddimah, juga karya lainnya Khaldun, bisa diletakkan dengan perspektif semacam ini.

“Ibnu Khaldun dengan karier yang terus-menerus berhubungan dengan kedudukan kekuasaan politik, berkembang menjadi pengamat yang teliti mengenai kehidupan politik zamannya,” jelas Seyyed Hossein Nasr dalam Science and Civilization in Islam. “Bakat pengamatan dan latihan filsafat dan metafisika membuatnya jadi murid yang terkenal dalam ilmu humaniora.”

Ibnu Khaldun barangkali sosok yang bisa diperdebatkan dalam kepiawaian berpolitik. Tapi janganlah kita sangsikan keandalannya dalam memetik hikmah di balik keterlibatan diri aktivismenya. Kitab al-I’bar atau yang acap disebut Tarikh Ibnu Khaldun tidak main-main ketika dikerjakan. Butuh 7 jilid untuk mengulas soal jatuh-bangunnya peradaban umat manusia, dan dunia Islam khususnya. Ia bisa berpanjang bukan karena mengada-ada, melainkan karena penghayatan yang dalamlah dari si penulisnya. Di sini kita pun bisa menilai apakah karier politik Khaldun yang tidak begitu cemerlang (kalau dari durasi lama memegang jabatan) sebentuk kegagalan ataukah malah keberhasilan.

Dari segi politik sempit, mungkin ia pantas disebut gagal—di luar tekanan politik lawannya yang kadang tidak beradab. Tapi dari segi pengembangan pengetahuan, cemerlanglah yang pantas disematkan atas tuangan gagasan, pemikiran, dan perenungannya di balik aktivitas berpolitik. Ia setidaknya berhasil keluar dari stigma klasik bahwa berpolitik demi kekuasaan dunia atau materi belaka. Ia malah buktikan bahwa keberadaannya adalah semacam meneliti berperan serta di lapangan langsung. Ia terjun, terlibat, dan merasakan denyut setiap goncangan dan perebutan politik. Karenanya, karya-karya Khaldun pun lebih hidup dalam mengulas peradaban.

Jejak Ibnu Khaldun dalam dunia saintis Islam abad pertengahan tidak senasib saudara seimannya yang berkiprah dalam tema filsafat, astronomi, logika, matematika—ringkasnya yang berkait dengan ilmu alam-fisik. Sosok sepeninggal Khaldun untuk kajian sejarah kurang begitu dikenal. Perlu lima abad untuk tampil saintis cemerlang yang melanjutkan gagasan Khaldun dalam tema serupa. Uniknya, jazirah yang sama menjadi saksi tampilnya Malik Bin Nabi.

Dari daratan maghribi, tepatnya Aljazair, Bin Nabi melanjutkan dan mengembangkan ide Khaldun. Malik Bin Nabi terlahir dalam revolusi Aljazair abad 20—dalam kata-kata Asma Rashid yang dikutip untuk buku terjemah Bin Nabi edisi Indonesia, Membangun Dunia Baru Islam—“seorang penulis, pemikir, dan mungkin sebagai filosof sosial pertama yang dilahirkan Dunia Islam semenjak zaman Ibnu Khaldun”.

Bin Nabi memiliki kemiripan lain dengan Khaldun, di luar soal minat dalam membahas tema sejarah dan peradaban. Ia juga harus berpindah-pindah tempat, dan harus pintar mengatur siasat dari incaran lawannya. Kali ini tipikal abad 20, yakni kolonialisme. Di bawah kekangan senjata dan retriksi rezim Prancis di tanah airnya, Bin Nabi harus berpindah-pindah tempat.

Agustus 1956, tulis Asma Rashid, Bin Nabi mencari suaka politik di Kairo dan mengabdi kepada Revolusi Aljazair. Meskipun pemerintah kolonial Prancis melalui orang-orang sewaannya berupaya memfitnah Bin Nabi dan mendistorsi citra tentang dirinya, khususnya di mata mahasiswa Aljazair, keikhlasan niatnya dan kekuatan logikanya segera membuatnya dicintai dan dipercayai oleh kaum muda dan terpelajar Arab-Aljazair. Karya-karya Malik Bin Nabi selalu jadi rujukan mereka.

Bila Khaldun butuh sebuah “hasil” kegagalan dan proses, Bin Nabi senantiasa membersamai proses perjuangan dalam karya-karyanya. Toh keduanya tidak berbeda secara hasil meskipun untuk kasus Bin Nabi karya-karyanya semisal SOS Aljazair, Perjuangan Ideologis di Negara-negara Terjajah, Perbaikan Sosial Baru, dan Ide sebuah Persemakmuran Islam, bisa langsung dirujuk para aktivis muda Islam kala itu sebagai acuan perjuangan kemerdekaan. Poin penting yang menyamakan kedua sosok ini adalah pelibatan diri yang intensif. Dalam pelibatan ada banyak pengamatan, pengalaman, dan kerja-kerja firasat dan iman. Semuanya bersenyawa mewujudkan kata-kata yang menggerakkan.

Proses perpindahan tempat pada keduanya juga memiliki makna penting sebuah titik penajaman analisis masalah. Berpindah bukan berarti kematian, melainkan titik melanjutkan impian. Khaldun berkali-kali berpindah, baik karena alasan politik maupun riset penulisan. Bin Nabi harus berpetualang untuk mencari dukungan kemerdekaan negerinya. Semua perpindahan ini memiliki pelajaran yang tidak sia-sia, entah awalnya direncanakan ataukah tidak. Namun bagi para pejuang keilmuan sebagaimana keduanya, perpindahan memang harus dihadapi kapan pun.

Firasat membaca situasi zaman menentukan ke mana harus melangkah. Ke mana kaki beranjak untuk melanjutkan impian. Impian peradaban yang ingin dilanjutkan; bukan untuk melarikan diri dari persoalan yang menjerat. Hadirnya tekanan lawan untuk dihindari harus dilihat dalam kerangka kerja pengetahuan ini. Yakni supaya pikiran fokus pada penelitian. Tidak terpecah menganalisis sementara kerja pengabdian masih di pundak. Dari Ibnu Khaldun kita bisa belajar soal ini, termasuk pilihannya untuk rehat berpolitik lantas menempuh pengabdian dalam ilmu.

Berkaca dari Ibnu Khaldun dan Malik Bin Nabi, para aktivis pergerakan Islam hari ini bisa belajar tentang makna berpindah. Kadang ada situasi kita dipaksa untuk berpindah. Bisa saja karena kesadaran, tapi lain waktu mungkin ada yang mengalami harus dibuang karena satu kebijakan kelompok tersebut. Keberadaan di mana pun, di luar kelompok asal, bukanlah aral buat bekerja peradaban. Beramal dalam aktivitas dakwah tidak boleh berhenti hanya karena lingkungan berbeda.

Mereka yang harus dibuang, dikucilkan, tidak didengarkan andilnya setelah sekian lama mengabdi dalam dakwah, tidak mesti mengakhiri rekam jejaknya hanya karena sudah “tidak bersama mereka”. Apa pun latar belakang perpindahan itu, pengalaman bersama kelompok dakwah awal bukanlah sebuah kesia-siaan. Ada banyak pelajaran untuk dijadikan bekal menatap waktu ke depan. Mengikuti formulasi Malik Bin Nabi, peradaban adalah kumulasi manusia, tanah, dan waktu. (Peradaban = manusia + tanah + waktu)

Kontribusi amal per individu bagi kemajuan peradaban Islam adalah peran kita selaku manusia yang berkaitan dengan pemanfaatan waktu dan keberadaan kita di mana. Tanah mengandaikan kita selalu menjejak di sebuah wadah. Meski tanah dalam konsepsi Malik Bin Nabi dalam arti harfiah (lihat bagaimana Israel dan Singapura menjalankan politik aneksasi tanah dan reklamasi lautan), bagi seorang aktivis dakwah tanah juga bisa berarti saluran beramal. Tidak bersama kelompok A lagi, bukan berarti mematikan kesempatan beramal sama sekali. Ketidakberadaan bersama A hendaknya tidak selalu paralel dengan keniscayaan bergabung bersama kelompok B, C, D, atau dan seterusnya. Ketika tidak bersama kelompok A, bisa saja tetap menjalankan manhaj yang sama tapi dengan kiprah di luar. Artinya, bersama atau tidak dengan kelompok A, manhaj amali ala A terus dijalankan. Di sinilah “tanah” masih diinjak seorang al-akh kendati ia tidak bersama mereka yang pernah bersahabat karib.

Melepaskan diri, mengeluarkan diri, atau bahkan dikeluarkan paksa dari barisan jamaah dakwah bukanlah sebuah kematian personal Muslim yang berperadaban. Masih ada ruang-ruang yang bisa diisi untuk memanfaatkan waktu dalam kerangka kerja dakwah. Dipisahkan dari habitus dakwah secara paksa bukan sebuah hasil akhir. Ia justru proses menuju kebaikan lebih besar. Seperti Ibnu Khaldun yang harus menepi dari kegagalan petualangan politik, kemudian lahirlah karya emasnya hingga setia bersaksi sampai kini. Meminggir dari hiruk-pikuk politik yang dijubahi ambisi kekuasaan merupakan momentum tepat untuk siapa saja yang masih berhati untuk menuangkan refleksinya. Menuliskan ingatan, kesan dan kritik untuk generasi ke depan.

Ditepikan dari satu jabatan memang sakit. Tapi menghadirkan karya selepas penepian itu bisa jadi akan jadi obat mujarab, baik bagi koreksi diri maupun warisan orang lain ke depan. Di tangan mereka yang pernah merasakan langsung kegagalan dan pahitnya situasilah, sebuah karya bisa berbekas untuk jadi pedoman buat orang lain. Tentu saja, di dalamnya bukan sebuah curahan hati atau gundah gulana kesaksian ataukah umpatan diri kepada sesiapa yang menyingkirkan. []

Sumber: islampos.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*