Flu Burung, Mitos atau Fakta?

Penanganan flu burung (duniaiptek.com)

Penulis: drh. Moh Indro Cahyono *)

Negara kita tercinta sampai saat ini masih sering terkena wabah Flu Burung yang diakibatkan oleh virus H5N1 (baik clade 2.1.3 maupun clade 2.3.2). Sudah ratusan juta korban ayam/bebek/burung yang mati karena virus ganas ini, tetapi sejauh ini kenapa para peternak tidak ada yang meninggal karena infeksi virus H5N1? Apakah memang peternak tersebut “sakti”, atau mereka bukan jenis manusia? Karena seperti digembar-gemborkan bahwa flu burung dapat menginfeksi manusia? Atau jangan-jangan flu burung memang tidak menular pada manusia, justru gembar-gembor itu hanya untuk menggantung nasib peternak yang hanya dijadikan komoditas laporan dan rapat demi data statistik untuk mencari proyek milyaran rupiah? Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara sederhana.

 
Perbedaan resptor unggas (a 2,3) & manusia (a 2,6) terhadap virus H5N1 (bulatan warna biru)
Jawaban kenapa Flu Burung tidak membunuh peternak adalah karena adanya perbedaan reseptor virus H5N1 di unggas dan manusia. Virus HANYA akan bisa menginfeksi mahluk hidup JIKA di tubuh mahluk hidup ada reseptor yang cocok dengan virusnya. Reseptor ini SANGAT spesifik terhadap virus itu sendiri – Virus A cocok dgn reseptor A, Virus A tidak akan cocok dengan reseptor B. Reseptor virus H5N1 adalah SA 2,3 (sialic acid alpha 2,3) yang ada di saluran pernafasan atas unggas (ayam/bebek/puyuh/burung) – jadi begitu ada wabah virus H5n1 yang tersebar lewat udara atau kontaki unggas sakit maka virus H5N1 akan langsung menempel ke reseptor SA 2,3, masuk sel epithel hidung, dan menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan kematian, serta kerusakan di organ paru-paru dan otak unggas. Karena hal ini maka virus Flu Burung HIDUP akan banyak ditemukan di otak dan paru-paru unggas korban wabah.
Bagaimana dengan para peternak dan dokter hewan yang belum atau tidak sakit, bahkan meninggal, padahal berinteraksi sangat dekat di sekitar tempat wabah Flu Burung? Seperti para manusia “sakti” yang diberi tanda bintang di gambar.
Sederhana saja – karena reseptor di hidung manusia adalah SA 2,6 (sialic acid alpha 2,6) yang TIDAK COCOK oleh virus H5N1, jadi tidak dapat nempel di reseptornya, sehingga virus tdk bisa nyebar ke seluruh tubuh manusia meskipun ada banyak virus H5N1 di udara dan menyebar ke lingkungan. Nah, sekarang kita berbicara tentang uji PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk menentukan manusia terkena flu burung atau tidak berdasarkan deteksi material genetik /RNA virus H5N1 – ceritanya ada banyak virus H5N1 nyebar kemana-mana di tempat wabah di udara, di baju, di hidung (yang tetap tidak dapat menempel dan menular ke manusia karena berbeda reseptor), di mulut, dimana-mana. Kemudian para “astronot” akan mengambil sampel dari hidung dan mulut para manusia di tempat wabah – apa hasilnya? PASTI POSITIF. Tetapi apa manusia dengan hasil positif ini meninggal karena Flu Burung? TIDAK, karena virus H5N1 tidak nempel karena beda reseptor nya. Bagaimana manusia yg sudah sakit parah kena TBC atau kena demam berdarah atau kena diare atau penyakit apa saja selain flu burung yang kebetulan tinggal di wilayah wabah Flu Burung dan diambil sampel lewat hidung dan tenggorokan? hasilnya adalah POSITIF PCR, penyebab kematian? dapat karena TBC, bisa diare, atau demam berdarah, belum tentu karena virus H5N1.
Bagaimana kita sebagai peternak menyikapi wabah Flu Burung yang setiap tahun di gembar-gemborkan media? Dengan belajar dan mendapat pengetahuan memadai, peternak akan menjadi cerdas, sehingga dapat menentukan nasib sendiri tanpa harus mengemis bantuan pada pihak lain. Kita sama-sama belajar bagaimana menangani penyakit unggas, sehingga kita tidak terus-terusan menjadi korban propaganda media dan pihak-pihak yang diuntungkan dengan berita wabah Flu Burung. Berita bagusnya H5N1, H1n1, H5N6, H7N9 H apa saja N apa saja semua mati dalam 3 menit jika disemprot pemutih pakaian dengan konsentasi 1+9 air. Kita tunjukan kita bisa menangani masalah kita sendiri dan kita bisa menentukan nasib kita sendiri.
Sumber: fb
*) Peneliti di Balai Besar Penelitian Veteriner (BBalitvet)

2 Comments

  1. Sebaiknya Titel Drh nya pak Indro bahkan kalau perlu posisinya sebagai peneiliti di balitvretttttt itu ditulis.. Buat meyakinkan yang baca.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*