Hasil Mengejutkan Riset Pengaruh Pohon di Perkotaan

Sebuah pohon di Kota Tua (deemustcampredo.deviantart.com)

Kota kian menghadapi tantangan lingkungan yang cukup serius. Salah satunya polusi udara yang berasal dari hasil industri dan bahan bakar kendaraan bermotor. Polutan particulate matters di atas 2,5 (PM2.5) tersebut, menurut hasil studi Harvard University bersama Greenpeace pada 2015, bisa membunuh 6,2 juta orang tiap tahun.

Menurut hasil studi The Nature Conservancy (TNC) Indonesia, sebetulnya jalan keluar dari permasalahan tersebut sangatlah sederhana. “Yakni memiliki pohon dan ruang terbuka hijau yang cukup,” ujar Delon Marthinus, forestry and climate change specialist dari TNC Indonesia. Delon mengatakan studi yang dirilis pada awal November ini melihat peran pohon berdasarkan informasi geospasial pada hutan dan permukaan tanah, konsentrasi polutan PM2.5, serta kaitannya terhadap kepadatan penduduk di 245 kota di dunia, termasuk Jakarta. Setelah itu, para peneliti mengestimasi peran pohon dalam membuat udara kota lebih sehat pada masa mendatang. Dalam riset ini, TNC bekerja sama dengan C40 Cities, konsultan lingkungan yang berbasis di New York, Amerika Serikat.

Pepohonan di 245 kota bisa mengurangi PM2.5 sedikitnya 10 mikrogram per meter kubik. Selain itu, ada 68,3 juta orang di luar 245 kota tersebut yang mendapatkan pengurangan suhu 0,5-2 derajat Celsius pada temperatur maksimum saat musim panas.

Hal itu, ujar Delon, secara tak langsung menjelaskan bahwa penanaman pohon di perkotaan bisa menjadi cara yang murah dan efektif untuk membuat udara lebih sehat. Dari perhitungan, tim mendapatkan angka investasi cukup US$ 4 per kepala untuk penanaman pohon.

Dampak lebih jauh, pohon bisa mengurangi kematian akibat PM2.5 sebesar 2,7-8,7 persen atau 11-36 ribu jiwa setiap tahun. “Biayanya rendah, tapi return of investment penanaman pohon lebih tinggi karena manfaatnya bisa dirasakan banyak orang di seluruh dunia,” tuturnya.

Begitu pula kematian akibat suhu tinggi. Pohon, kata Delon, bisa mengurangi mortalitas 2,4-5,6 persen atau 200-700 jiwa tiap tahun. Sebagai catatan, dengan potensi perubahan iklim yang kian meningkat, kematian akibat suhu tinggi bisa meningkat lebih dari 20 kali lipat. Yang jelas, Delon menekankan, studi mitigasi lingkungan perkotaan ini tak akan bisa berjalan lancar kalau tidak didukung intervensi kebijakan dari pemerintah kota masing-masing.

Sumber: tempo.co

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*